Rabu, 26 Oktober 2011

MAZHAB-MAZHAB MANAJEMEN

     Kemajuan ilmu pengetahuan, penggunaan multidisiplin dan adanya komputer telah membuka macam-macam kemungkinan dan kesempatan guna memperbaiki pemikiran tentang manajerial.
Hasilnya berupa sejumlah keyakinan serta sudut pandangan yang berbeda-beda tentang manajemen hal yang lazim dikaitkan dengan apa yang dinamakan “mazhab-mazhab manajemen”. Dewasa ini terdapat macam-macam mazhab atau aliran manajemen , mazhab-mazhab itu sebagai berikut:
1.      Mazhab manajemen berdasarkan kebiasaan.
2.      Mazhab manajemen ilmiah
3.      Mazhab kelakuan
4.      Mazhab sosial
5.      Mazhab manajemen sistem
6.      Mazhab manajemen berdasarkan keputusan-keputusan
7.      Mazhab pengukuran kwantitatif
8.      Mazhab proses manajemen
9.      Mazhab manajemen menurut keadaan

Mazhab Manajemen Berdasarkan Kebiasaan
Ada pihak yang beranggapan bahwa tugas-tugas manajerial yang berlangsung harus dilaksanakan dengan cara-cara yang baru saja lampau, yang berdasarkan kebiasaan atau tradisi. Kadang-kadang mazhab ini dinamakan mazhab empiris oleh karena ia memberikan sumbangan-sumbangan berupa generalisasi-generalisasi dan keterangan deskriptif tentang manajemen praktis dalam jumlah banyak.
Orang dapat mencapai hal yang baik, apabila mengikuti mazhab ini. Mazhab ini bersifat simpel, memberikan perasaan kepastian dan memberikan keterangan-keterangan kepada seseorang manager tentang aktivitas-aktivitas yang terjadi diluar perusahaan.



Mazhab Manajemen Ilmiah
Mazhab ini menggunakan metode ilmiah yang memverifikasi atau menolak asumsi-asumsi dengan jalan melaksanakan eksperimen secara terkendali. Hubungan kausal berarti bahwa adanya hal-hal tertentu atau terjadinya hal-hal tersebut disertai secara kausal oleh hal-hal lain yang ada atau yang akan terjadi. Haltersebut hendaknya jangan dikacaukan dengan apa yang merupakan sebab dan apa efeknya. Langkah-langkah pada metode ilmiah adalah:
a.       Identifikasi proposisi
Hal tersebut menetapkan sasaran dan mengarahkan seluruh penelitian kearah tujuan tertentu.
b.      Lakukanlah observasi pendahuluan tentang proposisi
Bersifat eksploratoris, menyediakan keterangan yang ada dan bahan latar belakang yang berguna.
c.       Kemukakanlah pemecahan tentatif terhadap proposisi
Hipotesa yang dikemukakan akan dibenarkan atau ditolak melalui eksperimen-eksperimen yang dikendalikan.
d.      Selidikilah proposisi secara cermat, dengan menggunakan pengetahuan yang berlaku dan eksperimeneksperimen yang dikendalikan.
e.       Klisifikasilah data yang diperoleh
Mengklasifikasi banyak membantu kita dalam hal meneliti data.
f.       Nyatakanlah jawaban tentatif terhadap terhadap proposisi
Melalui penafsiran data yang diklasifikasi secara cermat. Untuk tujuan itu, orang menggunakan dua macam cara penguraian yaitu: penguraian secara induktif dan penguraian secara deduktif
g.      Sesuaikanlah dan kemukakanlah jawaban terhadap proposisi
Memastikan adanya validitas dan kelengkapan maka jawaban tentatif tersebut ”dicoba” dengan kondisi-kondisi yang ditetapkan dan kemudian hasil-hasilnya dicatat.
Azas manajemen ilmiah: pelaksanaan penelitian secara mendalam, eksperimen-eksperimen yang dikendalikan dan penafsiran data yang diperoleh secara hati-hati merupakan landasan yang dapatndipercaya bagi determinasi dan evaluasi fakta-fakta baru yang dipergunakan oleh para manager.
Azas analisa dan sintesa: memecah-mecah sebuah problem ke dalam komponen-komponennya dan sebaliknya mengkombinasikan aneka macam entitas yang sedang dipersoalkan sangat membantu dalam hal mengindentifikasi dan menentukan pentingnya relatif masing-masing faktor problem tersebut.

Mazhab Kelakuan
Titik vokal penting daripada tidakan manajerial adalah kelakuan manusia apa yang dicapai, bagaimana hal tersebut dicapai dan mengapa hal tersebut dicapai dipandang sehubungan dengan impaknya dan pengaruhnya atas manusia yang dianggap sebagai entitas penting daripada manajemen. Topik-topik yang dipersoalkan antara lain: hubungan manusia, motivasi, kepemimpinan, latihan serta komunikasi. Mazhab ini merupakan perkembangan daripada penerapan ilmu-ilmu tentang kelakuan, khususnya ilmu jiwa dan ilmu jiwa sosial terhadap ilmu manajemen. Mazhab ini menekankan pula pengaruh vital daripada lingkungan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kelakuan.
Hasilnya berupa penemuan-penemuan penting mengenai persoalan kebutuhan dan motivasi manusia yang sedang bekerja, penggunaan otoritas, pengaruh irasional pada kelakuan manusia dan hubungan-hubungan informal yang timbul dalam sesuatu lingkungan kerja.


Mazhab Sosial
Manajemen sebagai sebuah sistem sosial atau secara lebih spesifik, sebagai suatu sistem antar hubungan kulturil. Mazhab ini berorientasi pada ilmu sosiologi dan mempersoalkan pengindentifikasian berbagai kelompok sosial maupun maupun hubungan-hubungan kulturil mereka di samping itu, kelompok-kelompok tersebut diintegrasi dalam sebuah sistem sosial lengkap.
Hal yang mendasari keyakinan mazhab sosial ini adalah kebutuhan untuk memecahkan berbagai macam pembatasan yang dihadapi oleh manusia dan lingkungan mereka. Biasanya digunakan sebuah kesatuan social yang ideal, dimana manusia berkomunikasi secara efektif satu sama lain, dan dimana mereka dengan sukarela membantu kearah dicapainya tujuan umum.
Kadang-kadang kesauan yangn dipersoalkan adalah seluruh entitas social. Apabila hal itu dilakukan maka mazhab terrsebut dipengaruhi secara ekologis dan mempersoalkan hubungan-hubungan antara: organisasi, lingkungan intern dan ekstern, kekuatan-kekuatan yang menimbulkan perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian.
Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa mazhab sosial menentukan interaksi serta kerjasama manusia yang bersama-sama membentuk sebuah entitas sosial. Ia melakukan kelakuan organisasi maupun rasional dan pengembangan pengertian yang didasarkan atas penelitian-penelitian empiris.

Mazhab Manajemen Sistem
Sebuah system dapat dianggap sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasi yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan dengan cara tertentu dan yang ditujukan kearah tujuan tertentu. System-sistem merupakan dasar bagi kebanyakan aktivitas. Analisa mengungkapkan bahwa sebuah aktivitas sebenarnya merupakan hasil banyak sub-aktivitas lain dan sebaliknya, sub-aktivitas tersebut merupakan hasil banyak sub-sub aktivitas lainnya.
Sebuah perusahaan dianggap sebagai sebuah system buatan, dimana bagian-bagian internnya bekerjasama untuk mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan, sedangkan bagian-bagian ekstern berhubungan dengan lingkungannya, inklusif para pembelinya, public secara umum, para leveransir dan pihak pemerintah.


Mazhab Manajemen Berdasarkan Keputusan-Keputusan
Pada mazhab ini titik berat diletakkan pada keputusan-keputusan manajerial. Pengambilan keputusan-keputusan merupakan tugas sebenarnya daripada pihak manager. Pembuat keputusan adalah manager. Memang harus diakui bahwa pembuatan keputusan adalah vital pada setiap mazhab manajemen. Akan tetapi, konseptualisasi keputusan kontemporer bukanlah terbatas hingga sesuatu bidang yang terbatas, atau dideterminasi pleh latihan sederhana dalam bidang akal sehat. Banyak pihak beranggapan bahwa sesuatu keputusan manajerial bukan saja mencakup hal apa yang harus dilakukan tetapi juga bagaimana dan bila harus melakukannya.

Mazhab Pengukuran Kuantitatif
Pada mazhab ini, para penganutnya memandang  manajemen sebagai salah satu entitas logis, yang tindakan-tidakannyadalam bentuk symbol-simbol matematis, hubungan-hubungan matematis dan data yang dapat diukur. Adapun dua hal yng mencirikan mazhab kwantitatif ini:
1.   Mengoptimalkan atau meminimalkan input-output
2.   Penggunaan model-model matematis

Mengoptimalkan atau mengoptimalisasi berarti bahwa apa yang paling baik bagi sebuah factor yang terseleksi dipilih daripada sebuah keseluruhan seperti misalnya sebuah organisasi secara keseluruhan, departemen atau kelompok kerja dan setiap alternative lain adalah adalah kurang baik. Mengoptimalisasi biasanya berhubungan dengan penjualan, laba bruto, penggunaan mesin-mesin, service atau produktivitas. Sebaliknya tindakan meminimalisasi bersifat typis bagi biaya dan waktu yang dipergunakan.
Perlu diingat pula bahwa penggunaan approach ini tidaklah mengurai resiko, tetapi sekalipun demikian, pihak manager banyak mendapatkan bantuannya dalam rangka mengambil resiko yang tepat.



Mazhab Proses Manajemen
Para penganut mazhab ini manganggap manajemen sebagai sebuah aktivitas yang terdiri daripada sub-aktivitas tertentu atau fungsi-fungsi dasar manajemen yang merupakan sebuah proses yang unik yakni proses manajemen. Proses ini dianggap sebagai proses essensial daripada manajemen dan umumnya dianggap sebagai format efektif untuk studi bagi orang yang baru mulai mempelajari ilmu manajemen. Secara singkat dapat dikatakan bahwa:
1.   Perencanaan berarti tindakan mendeterminasi sasaran dan arah tindakan yang akan diikuti.
2.   Pengorganisasian adalah tindakan mendistribusi pekerjaan antara kelompok yang ada dan menetapkan dan memerici hubungan yang diperlukan.
3.   Menggerakan berarti merangsang anggota kelompok untuk melaksanakan tugas mereka dengan kemauan baik dan secara antusias.
4.   Mengawasi berarti mengawasi aktivitas agar sesuai dengan rencana.


Mazhab Manajemen Menurut  Keadaan

Salah satu mazhab relative baru yang muncul adalah mazhab manajemen menurut keadaan. Pada pengikutnya menekankan relavansi tindakan manajerial dengan cirri-ciri khusus situasi dimana terjadi kejadian tersebut. Dinyatakan bahwa manajemen harus sesuai dengan lingkungannya. Hal tersebut berarti kondisi-kondisi atau lingkungan didalam msns msnsjemen terjadi. Istilah tersebut lazim digunakan oleh dunia militer, yang menyusun rencana untuk berbagai kondisi yang diasumsi akan terjadi.
Konsepsi tersebut telah ditekankan pada apa yang dikenal sebagai “situational management” dan dalam sebuah piper tahun 1919, Mary Parker  Follet, menggunakan istilah “ law of the situation”. Sebenarnya kebanyakan manajer mempertimbangkan situasi individual dalam hal melaksanakan tugas manajerial mereka, tetapi mungkin mereka melupakan factor situasional tertentu sewaktu makin banyak pengetahuan diperoleh mengenai factor apa perlu diperhatikan dama situasi macam apa, maka caliber manajemen akan bertambah baik dan manajer tersebut akan dapat menjalankan manajemen dengan kepastian yang lebih besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar